Apa-apaan ini? Apa yang terjadi? Tanyaku dalam hati.
Hukum I Newton; Setiap benda tetap berada
dalam keadaan diam atau bergerak dengan laju tetap sepanjang garis lurus,
selama tidak ada gaya yang bekerja pada benda tersebut atau tidak ada gaya
total pada benda tersebut.
Mungkinkah kau 'gaya total' bagi laju
hidupku yang sebelumnya tenang dan stabil? Sebelum kau datang, hari-hariku
biasa-biasa saja, irama jantungku berdetak sewajarnya, dan sekolah tetap
membosankan seperti seharusnya. Tetapi setelah kau datang? Semuanya berubah!
Tiba-tiba aku menahan napas saat berpapasan denganmu, waktu seolah melambat
tetapi berbanding terbalik dengan detak jantungku yang berdegup cepat. Dan
sekolah? Aneh sekali aku merasa sekolah bagai tempat paling menyenangkan
sedunia. Apa-apaan ini? Apa yang terjadi? Mungkinkah aku sedang jatuh
cinta?
Entahlah, aku tak mengerti. Tapi bagiku,
'jatuh cinta' harus bisa dibuktikan secara ilmiah. I believe in science,
harus ada bukti empiris yang cukup kuat menunjukkan bahwa aku benar-benar jatuh
cinta. Tapi, bagaimana caranya?
Aku mulai membaca buku-buku, aku membaca
puluhan artikel di Internet; Bagaimanakah cara membuktikan bahwa seseorang
sedang jatuh cinta?
Akhirnya, aku dapat juga cara mengujinya.
Begini caranya: Aku akan menghitung jumlah detak jantung normalku setiap
menitnya, lalu akan kubandingkan dengan jumlah detak jantungku setiap kali
melihatmu. Aku akan menghitungnya selama seminggu dan menemukan rata-ratanya.
Jika ada perbedaan antara detak jantung normalku dengan detak jantungku setiap
kali bertemu denganmu, barangkali bisa disimpulkan bahwa aku memang sedang
jatuh cinta padamu. Begitu kira-kira. Ini teori ciptaanku sendiri, mari kita
uji!
Aku mulai melakukan riset sederhana itu.
Aku menghitung jumlah detak jantungku setiap menitnya, aku mendapatkan
rata-ratanya: 80 kali per menit. Itu detak jantung normalku. Baiklah, mari kita
buktikan apakah aku sedang jatuh cinta padamu atau tidak...
Hari pertama, Selasa. Kau sedang mengobrol
dengan beberapa teman temanmu. Aku menarik napas panjang dan mulai menghitung.
Hasilnya: 88! Kesimpulan sementara: Ada peningkatan detak jantung saat aku
melihatmu. Tapi, aku belum percaya bahwa aku sedang jatuh cinta.
Hari kedua, Rabu, Bangkumu kosong, entah mengapa
aku merasa kehilangan saat memperhatikan bangku milikmu yang kosong. Lima menit
berlalu, bel masuk berbunyi. Dan kau belum juga datang. Oh, hari ini seharusnya
aku sudah melihatmu dengan ikat-rambut warna hijau. Hei, sedang di manakah
kamu?
Lima menit kemudian, Aku mulai
bertanya-tanya dan menerka-nerka: Apakah kau tidak masuk hari ini? Apa kau
sedang sakit? Apakah sesuatu terjadi padamu?
Aku mulai khawatir.
Aku menghitung detak jantungku: 84.
Tiba-tiba suara pintu kelas diketuk, kau
datang tergesa-gesa dengan napas yang terengah.
Kau berjalan tergesa menuju tempat
dudukmu. Aku memperhatikanmu. Dan ternyata kau menangkap mataku sedang
memperhatikanmu, kau tersenyum ke arahku. Sial! Degup jantungku mempercepat
dirinya sendiri! Segera kuhitung: 96! Apa-apaan ini?! Degup jantungku tiba-tiba
meningkat signifikan!
Hari ketiga aku memperhatikanmu, degup
jantung tetap di atas normal, apakah aku benar-benar jatuh cinta padamu? Aku
tak begitu yakin, apakah ini reaksi normal?
Hari keempat, kelima, keenam, dan ketujuh
sudah kulalui. Aku sudah mendapatkan hasilnya. Harus kuakui, ternyata memang
ada peningkatan cukup signifikan dari detak jantungku setiap kali bertemu kamu.
Aku mendapat rata-ratanya: 92. Itu belum termasuk keringat dingin dan gemetaran
saat kamu mengajakku ngobrol.
Ah, jika kau memang 'gaya total' yang
mempengaruhi dinamika hidupku, menyebabkan percepatan degup jantungku setiap
kali bertemu denganmu, benarkah aku sedang jatuh cinta padamu? Aku tak yakin.
Aku bisa saja menolaknya. Tapi, mungkinkah aku menolak Hukum II Newton: Jika
suatu gaya total bekerja pada benda, maka benda akan mengalami percepatan,
dimana arah percepatan sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya. Vektor
gaya total sama dengan massa benda dikalikan dengan percepatan benda.
∑F = ma. Baiklah, yang jelas aku mulai curiga: Jangan-jangan kau memang 'gaya
total' bagi hidupku!?
Aku senyum-senyum sendiri, merasa jadi orang gila yang bahagia. Sial, aku benci
perasaan mellow macam begini, tapi aku tak bisa menolaknya! Sungguh, ini
seperti terperangkap dalam soal Gaya dan Dinamika di ujian Fisika, Hukum III
Newton: Apabila sebuah benda memberikan gaya kepada benda lain, maka benda
kedua memberikan gaya kepada benda yang pertama. Kedua gaya tersebut memiliki
besar yang sama tetapi berlawanan arah.
F AkeB = -F BkeA. ini teori Fisika yang
paling romantis buatku. Baiklah, aku menyerah, aku memang benar-benar jatuh
cinta padamu. Aku, melihat kita berjodoh menurut Hukum III Newton. Aku suka
bicara, kau pendiam. Aku suka Fisika dan Matematika, kau suka Sejarah dan
Bahasa Indonesia. Aku periang, kau pemalu. Aku mudah marah, kau penyabar. Aku
tergesa-gesa, kau bertele-tele. Kita saling berlawanan tapi sekaligus saling
menggenapkan.
Setiap benda yang memberi gaya tertentu
akan mendapatkan gaya yang berlawanan dari yang diberikan olehnya... Inilah
yang membuat gerak jadi sempurna, membuat hidup dan cinta jadi indah: F aksi =
-F reaksi
Barangkali aku bukan laki-laki terbaik di
dunia, karena memang tak ada seorang pun yang sempurna. Aku hanya laki-laki
biasa, yang menemukan sebagian dirinya dalam dirimu. Bagiku, kaulah yang akan
menyempurnakan hidupku, Barangkali ini terdengar gombal buatmu. Biar saja! Aku
memang masih kelas 3 SMA. Tapi soal cinta, aku merasa jauh lebih dewasa. Aku serius.
Seperti pada Fisika, aku serius soal cinta!
Well, demi Hukum I, II, dan III Newton: Aku cinta kamu!
Ternyata cinta tak sesederhana rumus-rumus
Fisika dan hitung-hitungan Matematika... Cinta barangkali bagai senyawa kata
dan makna yang bersembunyi di balik metafora puisi dan kita terus menerus
membacanya, menafsirkannya, mengaguminya tanpa henti... Bagiku, kaulah puisiku!
Yang terindah yang pernah aku tahu! Hei, kenapa aku jadi bisa menulis yang
seperti ini? Pasti gara-gara kamu... :-)
Dan dirimu damaikan hatiku
Dan artimu tak akan berakhir
Salam,
...